TASAWUF ORANG
KANTORAN
Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak Tasawuf
Disusun Oleh :
Kelompok 13
Ayu Hidayatus Sholikhah (15630024)
Yoga Saputra (15630030)
Titis Ratna Djuwita (15630038)
PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Pada esensinya, agama Islam yang terdiri
atas aqidah, syariat dan akhlak, merupakan agama yang sempurna dan semua
ajarannya terintegral dan saling berkaitan. Aqidah menjelaskan syariat,
syariat menjelaskan aqidah, dan aqidah serta syariat menjelaskan akhlak.
Dalam pengejawantahannya kemudian melahirkan praktek-prektek
yang beragam dikalangan ummat Islam. Dan dalam sejarah kemudian kita
mengenal adanya praktek-praktek sufi yang dijalani oleh beberapa orang dan
kelompok.
Tasawuf adalah
sebuah ajaran untuk membersihkan diri dari sesuatu yang hina kemudian
menggantinya dengan sesuatu yang baik untuk memperoleh kedekatan dengan Allah
SWT. Karena jika seseorang telah dekat dengan Allah SWT dan meraih cinta-NYA,
maka secara otomatis ia pun akan dekat dan dicintai oleh sesama manusia.
Wacana tasawuf mengarahkan pikiran kita pada orang-orang saleh, banyak
ibadah, menjaga tingkah laku pergaulannya dengan Allah SWT., dengan sesama
manusia, dengan mahluk lain dan selalu ingin dekat dengan Allah pencipta semua
mahluk. Namun demikian istilah ini merupakan istilah yang disandarkan pada
sebuah gerakan batiniah dalam usaha untuk mendekkatkan diri seorang hamba
kepada sang Khalik.
Krisis multidimensi yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia, terutama krisis ekonomi, telah membuat sebagian rakyat lebih
mengedepankan materi/uang. Mereka cenderung berlomba-lomba agar dapat survive
dari krisis ini. Demikian pula dengan kondisi dunia usaha (bisnis) ikut pula
terimbas, tidak terkecuali pula individu-individu kantoran.
1.2
RUMUSAN MASALAH
- Refleksi tasawuf di meja kerja
- Aplikasi tasawuf dalam kehidupan sehari-hari
- Hal yang dapat dilakukan untuk menjadi sufi berdasi
BAB II
PEMBAHASAN
3.1
REFLEKSI TASAWUF DI MEJA KERJA
Di saat manusia di zaman modern kebanyakan kerja di
dalam kantor. Mungkin sebagian merasa bahwa ibadah mereka berkurang begitu
banyak. Kesibukan seorang manager pasti menyita waktunya. Mungkin untuk ibadah wajib
seperti shalat lima waktu dan puasa masih bisa dilakukan. Akan tetapi,
shalat rawatib dan
shalat dhuha sudah dipastikan sulit mencari waktu untuk
melakukannya. Apalagi membaca alquran dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
SAW. Biasanya bagi sebagian orang sulit dan bahkan “tabu” untuk dilakukan di dalam kantor
dan meja kerja.
Memang, ibadah jasmani menuntut untuk meluangkan
waktu bagi anggota badan untuk mengerjakannya. Shalat, tidak mungkin dikerjakan
sambil kerja. Apalagi haji yang menuntut untuk melepas semua kesibukan dan
bahkan meninggalkan keluarga. Kalau puasa masih bisa dilakukan oleh siapapun
dalam kondisi sambil kerja tentunya.
Sebenarnya yang paling memungkinkan adalah ibadah
hati. Ibadah hati, yang sebenarnya adalah dzikir sirri. Dzikir
dalam keramaian memungkinkan siapapun untuk melakukannya.
Karena dzikir di dalam hati tidak membutuhkan waktu khusus dan tempat khusus
dan bahkan tidak membutuhkan suci dari hadast. Dalam kondisi apapun,
seseorang bisa menjalankan dzikir. Dalam setiap kesempatan siapapun bisa
melakukan dzikir. Bahkan di dalam WC pun, kita
masih bisa dzikir. Bahkan di saat berhubungan suami istripun, dzikir
dimungkinkan.
3.1
APLIKASI TASAWUF DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Menerapkan tasawuf dalam kehidupan sehari hari tidak
memandang siapapun anda. Bila telah belajar tasawuf, pasti akan mudah
menerapkannya di kehidupan sehari hari, tak terkecuali ketika berada di tempat
kerja. Menanamkan tasawuf dapat dimulai dari sekarang, yakni mengerjakan segala
sesuatu dimulai dengan bacaan basmalah. Dan biasakan melakukan semua aktifitas diiringi dengan dzikir di dalam hati. Biasakan untuk
mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT. Sehingga, kita bersyukur
ketika menjalankan taat dan mendapatkan nikmat, dan taubat ketika menjalankan
maksiat, serta sabar dan ridho atas qadha Allah ketika mendapatkan musibah.
Perlu diingat, jangan segan dan jangan malu untuk
menimba ilmu dari para ulama’. Karena mereka adalah pewaris para nabi. Jangan
terpesona dengan orang kaya tapi kikir, karena dia adalah penerus Qorun yang
terlibas gempa sehingga terhempas di dalam perut bumi. Jangan juga terpikat
oleh pemimpin yang semena semana, karena hakikatnya dia adalah Firaun yang mati
terpuruk di tengah lautan.
Dalam pepatah jawa “trisno jalaran soko kulino”,
maka biasakanlah berdzikir dengan lisan dan hati ketika anda tidak mempunyai
kesibukan, sehingga tak terasa, di saat anda sibuk, hati anda akan berdzikir
secara terus menerus tanpa perlu dituntun lagi.
Sufi merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Rabbaniyyah
dalam kehidupan. Sufi bukanlah sikap ‘anti dunia’, dalam kehidupan moderen saat
ini, sosok manusia dengan segala kesibukannya di dunia dapat menjadi seorang
‘Sufi’, seorang karyawan, pebisnis, dapat menjadi ‘sufi’ meski dengan pakaian
moderen seperti jas, kemeja, dan sebagainya.
Beberapa penerapan tasawuf dalam kehidupan
sehari-hari:
·
Tasawuf Untuk Kecerdasan Spiritual
Ajaran Tasawuf
menjadikan manusia dapat mengetahui dan dapat tegas memisahkan mana amalan
kebaikan dan mana amalan keburukan.
·
Tasawuf Untuk Kesuksesan Karier
Ajaran Tassawuf
dalam dunia pekerjaan diaktualisasikan dalam bentuk niat karena Allah SWT,
totalitas, ikhlas, serta tidak mudah putus asa. Apabila dapat diterapkan, maka
kesuksesan dalam ber-karier pada bidang pekerjaan apapun hanya tinggal menunggu
waktu saja.4
·
Tasawuf Untuk Kehidupan Berkeluarga
Ajaran Tasawuf
dalam kehidupan berkeluarga dapat menghadirkan ketenangan, kedamaian, sikap
saling mencintai, teguh dalam menghadapi masalah, yang kesemuanya pada akhirnya
dapat membentuk keluarga yang sakinah, Mawaddah, Warrahmah, laksana Baiti
Jannati.
·
Tasawuf Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Nilai-nilai
Tasawuf dapat menghadirkan kondisi masyarakat yang damai, tenang, saling
menghormati, karena masing-masing pribadi/keluarga saling menjaga diri dari
melakukan perbuatan-perbuatan tercela.[5]
3.1
HAL YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENJADI SUFI BERDASI
2.4.1. Meluruskan Niat
a.
Pola tukang jahit
Membuat
sebuah pola dalam urusan jahit menjahit sangatlah penting sebelum seseorang
memulai untuk membuat suatu pekerjaan menjahit. Demikian pula dalam mengerjakan
suatu perbuatan. Mencanangkan niat terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan
sama halnya dengan membuat pola. Baik buruknya perbuatan bergantung pada niat
dan cara melakukannya. Itulah yang dimaksudkan Rasulullah Saw. dalam hadisnya
yang sangat terkenal mengenai niat. Beliau bersabda, “Innamal a’malu binniat”. Sesungguhnya setiap amal perbuatan
bergantung pada niatnya.
Nabi
saw. bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sungguh Allah mencintai hamba-Nya yang
berkerja. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka
ia laksana seorang yang bertempur di medan perang membela agama Allah”.
Bayangkan, pergi bekerja (ngantor), bertani, berdagang, melaut, dan
sebagainyadisejajarkan dengan para mujahidin yang berperang melawan musuh.
Syaratnya jelas, semata-mata bekerja dengan niat ibadah dan sudah barang tentu
yang dikerjakan adalah halal.
Jadi,
niat memegang peranan penting dalam perbuatan. Perbedaan kedua pekerjaan yang
sama dengan niat yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda. Tidakkah
kita merasa sayang bila diserahi kain untuk dijahit menjadi sebuah baju, lalu
tanpa mengukur dan membuat pola langsung gunting sana gunting sini, akhirnya
jadinya tidak sesuai pesanan. Tentu sang pemesan tidak mau menerimanya. Bahkan
bukan Cuma menolak,tapi akan memarahi sang tukang jahit. Namun, jika
ukurannyapas dan enak dipakai, mka tidak hanya ongkos jahit yang diterimanya
tapi juga tips dan pujian-pujian. Demikian pula amal perbuatan kita, kalau
dipola atau diniatkan sesuai kehendak Allah, ganjarannya (pahala) akan
berlipat-lipat.
Cela
dalam sebuah baju terjadi karena kecerobohan dalam membuat atau tidak pandai
dalam mengerjakannya. Oleh karena itu, sekecil apapun mulailah setiap pekerjaan
dengan niat yang baik, niat yang semata-mata untuk mendekatkan diri dan mencari
keridhoan-Nya.
b.
Pekerjaan yang
terbaik
Banyak
orang yang menilai pekerjaan sebagai guru agama, ustadz atau kiai saja yang
mengandung berkah. Sementara pekerjaan lain seperti pedagang, kantoran,
nelayan, ekonom, politikus, tentara, dan sebagainya adalah masalah-masalah
duniawi. Padahal Allah tidak pernah membedakan antara pekerjaan yang lain
sepanjang halal cara mendapatkannya.[8]
Fauzi
Sanqarth menjelaskan dalam kitabnya at-Taqarub Illallah Thariqut Taufiq bahwa
pekerjaan yang
paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas lillahi ta’ala serta
sesuai dengan tuntunan hukum islam. Para ulama selalu menyatukan dua hal utama
ini dalam setiap aktivitasnya. Dalam surah al Mulk ayat 2 Allah berfirman, “... agar Ia menguji siapakah di antara
kalian yang terbaik amalannya.” Allah menekankan pada pernyataan “amal yang
terbaik”, bukan “amal yang terbanyak”.[8]
Dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, mencari nafkah merupakan suatu kewajiban bagi
seorang laki-laki muslim dewasa. Untuk itu, setiap memulai pekerjaan itu harus harus
ikhlas. Pekerjaan yang dilakukan juga harus halal sesuai dengan tuntunan Nabi
saw.. Bekerja sebagai guru tetapi tidak ikhlas maka pahalanya tidak akan
sampai. Menarik apa yang dikatakan Hujjatul Islam Imam Ghazali. Beliau
mengatakan, “semua manusia akan hancur,
kecuali mereka yang berilmu. Setiap orang yang berilmu akan hancur, kecuali
orang yang beramal. Setiap orang yang beramal akan hancur, kecuali orang yang
ikhlas. Setiap orang yang ikhlas akan selalu menghadapi godaan setan.”
Keikhlasan
dalam bekerja memang menjadi sorotan penting. Ulama terkenal Imam Abi Qasimy al
–Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah
menjadikan tujuan taat satu-satunya hanyalah kepada Allah. Bukan untuk yang
lain, seperti mengambil hati orang lain, mengharap pujian atau makna lain
selain mendekatkan diri pada-Nya.”
c.
Bukan mengharap
pujian
Niat
yanng ikhlas mendasari setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang muslim.
Disadari niat tersebut, setiap pekerjaan akan dilaksanakan dengan amanah,
bersih (jujur), transparan, dan profesional (ABTP). Kaum muslim di era
kejayaannya dahulu selalu melaksanakan prinsipprinsip tersebut. Keempat faktor
inilah yang sekarang sedang dibangun oleh masyarakat bisnis modern kita,
menggantikan istilah yang disebut KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).
Bekerja
supaya dianggap hebat bukan sifat seorang muslim. Ahli hikmah memberikan uraian
yang sangat mengena. Ia berkata, “Contoh
seorang yang bekerja dengan riya’ dan sum’ah bagaikan orang yang pergi ke
pasar. Ia mengisi kantongnya dengan batu sehingga orang-orang yang melihat
kantongnya semua merasa kagum dan berkata, ‘Alangkah penuh kantong orang itu
dengan uang’. Namun tentu saja sama sekali tidak berguna baginya apa yang ada
dalam kantong itu karena tidak dapat dibelanjakan apa-apa kecuali mengharapkan
pujian orang-orang.”
Ali
bin Abi Thalib juga memperingatkan setiap orang yang bekerja tidak secara
ikhlas. Beliau memberi tanda orang-orang yang tidak ikhlas dengan empat macam:
malas jika tidak ada orang, giat jika di muka umum, bertambah amal jika dipuji,
dan menguranginya jika dicela.[9]
Banyak
diantara kita bekerja karena atasan. Atasan melihat kita giat, atasan cuti kita
seenak hati. Padahal akhlak seorang muslim tidak seperti itu. Jika niatnya
ikhlas, bekerja dianggap sebagai ibadah maka setiap aktivitas akan melahirkan
pahala-pahala yang banyak, meskipun amalannya adalah pekerjaan kantor.[9]
Agar
terhindar dari keinginan untuk dipuji dan pamer pekerjaan, Syaqiq bin Ibrahim
yang dikutip dalam kitab Tanbihul Ghafilin memberikan saran untuk membentengi
perbuatan kita. Ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, merasa bahwa taufik
dan hidayah datangnya dari Allah semata. Perasaan ini untuk mematahkan sifat
sombong dan takabur. Kedua, pekerjaan itu harus diniatkan hanya untuk
mendapatkan keridhaan-Nya. Ketiga, setiap pekerjaan harus mengharapkan pahala
dari Allah. Hal ini dapat menghindarkan dari sifat tamak, rakus, dan riya’.
Dalam kehidupan sehari-hari, bukan berarti pujian tidak diperlukan. Kadang
pujian dapat memacu kerja dan prestasi kerja. Namun mabuk pujian, bahkan
menjadikan pujian sebagai tujuan sangatlah dilarang oleh agama. Nabi sendiri
sering memberikan pujian kepada sahabatnya. Salah satunya adalah pujian
terhadap Abu Bakar. “Kalau imannya Abu
Bakar ditimbang dengan imannya seluruh manusia, niscaya lebih berat kepada Abu
Bakar.”
2.4.2. Amar Makruf
a.
Memanjangkan akar
kedermawanan
Agama
islam adalah agama yang mengajarkan kedermawanan. Rasulullah saw. adalah
contong orang yang sangat dermawan. Bahkan kedermawanannya itu mengundang
simpati orang untuk masuk islam. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis
bahwa Nabi saw. sama sekali tidak pernah berkata “tidak” jika ada yang minta
sesuatu darinya. Pernah ada orang dari kaum yang masih kafir meminta kambing
pada Rasulullah. Oleh beliau diberikan sebanyak kambing yang ada di antara dua
bukit. Orang tadi demikian girang dan langsung pulang ke kaummnya serta berseru
“wahai kaumku, masuklah islam. Karena
sesungguhnya Muhammad memberikan harta dengan pemberian seperti orang yang
tidak takut miskin.” Maka islamlah satu kaum tersebut dengan sifat
pemurahnya Nabi.
Seorang
yang bersifat dermawan laksana menancapkan kakinya ke surga lewat akar pohon
sedekahnya. Semakin banyak sedekah, semakin panjang akarnya masuk ke surga.
Untuk itu, para sahabat beramai-ramai untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah.
Kegemaran bersedekah tidak hanya menjadi monopoli sahabat Nabi saw. yang
tergolong kaya. Karena setiap kaum muslim apapun kondisinya ia harus bersifat
pemurah. Bahkan, kalau tidak ada sesuatu pun, senyum bisa diberikan. Menurut
Nabi, senyum kepada saudaranya adalah sedekah. Bahkan, orang yang gemar akan
dilipatgandakan hartanya oleh Allah.
Allah berfirman “Perumpamaan
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada masing-masing bulir seratus
biji. Allah melipatgandakan ganjaran siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha luas
karunianya lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:261)
b.
Mendekat sejengkal,
kudekati sehasta
Taqarrub
kepada Allah tidak terbatas hanya dalam ibadah khusus (ritual) saja. Namun ia
mencakup pula seluruh aktivitas yang berhubungan dengan manusia lain, seperti
muamalah atau akhlak dan semua aspek kehidupan manusia baik yang bersifat
fardhu ‘ain, fardhu kifayah, maupun sunnah.
Kegiatan-kegiatan
sunnah juga disukai oleh Allah. Kegiatan-kegiatan sunnah merupakan tambahan
dari aktivitas yang wajib seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Dari
kecintaan-Nya tersebut Allah akan mengangkat derajat sang hamba. Tentu saja
maqam seperti itu harus dicapai dengan latihan sedikit demi sedikit. Percepatan
melakukan proses pendekatan dimotivasi Allah dengan firman-Nya yang sering kita
dengar dalam hadis qudsi riwayat Imam Bukhari, “Jika seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku sejengkal, Aku mendekatinya
sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekati sedepa. Jika ia
mendekati-Ku dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari.”
Kedekatan
seorang hamba kepada sang Khaliq menunjukkan ukuran kecintaan, baik kecintaan
Khaliq kepada hamba, maupun hamba kepada Khaliq. Imam al-Ghazali sangat konsen
terhadap masalah cinta-mencintai ini. Dalam buku-bukunya banyak dibahas maslah
kecintaan kepada Allah. Salah satunya beliau mengatakan, “sesungguhnya
kecintaan kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam dan kedudukan
yang paling tinggi. Karena setelah diraihnya mahabbah, tidak ada lagi kedudukan
yang lain kecuali buah dari kedudukan tersebut seperti maqam syauq, uns, ridha
dan lain-lain. Dan tidak ada maqam sebelum mahabbah kecuali pengantar-pengantar
pada kecintaan itu seperti tobat, sabar, zuhud, dan lainnya.”
c.
Shalat (tolok ukur
orang islam)
Bagi
orang kantoran, melaksanakan shalat tidak segampang ibu rumah tangga, guru,
mahasiswa, atau kaum santri. Di zaman reformasi seperti ini, dapat dilihat
sedikitnya persentase orang yang shalat di lingkungan kantoran, dapat
disimpulkan bahwa terdapat kesulitan di situ.
Faktor
yang menghalangi shalat memang banyak. Dunia kantor yang cenderung materialis
merupakan faktor utama, sehingga seorang karyawan muslim enggan untuk shalat.
Alasan lain mudah dicari seperti sibuk, tidak ada tempat, atau tempatnya kurang
nyaman. Jadi, shalat adalah barang mahal bagi dunia bisnis yang berada di
kantor-kantor.[13]
Tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa kadar keislaman seorang karyawan bisa diukur
dari shalatnya. Apakah ia shalat atau tidak. Namun setidaknya indikator atau
tolok ukur standar untuk melihat kadar keislaman seseorang.jika seseorang tidak
shalat, dapat dipastikan agamanya kacau. Meskipun bisa jadi orang tersebut
dianggap baik oleh orang lain. Sedangkan kalau shalatnya baik, memang belum
tentu ia baik orangnya. Tapi yang jelas, ia lebih baik dari orang yang tidak
shalat tadi.[13]
Padahal,
masalah shalat adalah hal yang paling banyak diwanti-wanti Nabi Muhammad saw..
Kewajiban yang merupakan sarana komunikasi hamba dengan Tuhannya ini sangat
tegas perintahnya maupun larangan meninggalkannya. Orang yang ingin mendekatkan
diri kepada Sang Khaliq akan berusaha melakukannya. Apalagi ganjarannya sangat
tinggi. Firman Allah dalam surah al-Mu’minun 9-11 : “Dan orang-orang yangg senantiasa memelihara shalatnya merekalah yang
mewarisi. Yaitu mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” Terhadap
orang yang melalaikan shalat Nabi mengancam, “Barangsiapa yang menggampangkan shalatnya, Allah akan menghinakannya.”
d.
Membuat pagar di
luar benteng
Benteg
pada diri manusia dibuat dengan ketaatan kepada Allah. Semua perintah wajib
seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, haji jika yang mampu dan sebagainya
harus dilakukan. Dengan mengerjakan yang wajib-wajib saja maka telah terbentuk
sebuah benteng yang kuat. Jika shalat seorang hamba masih bolong-bolong atau
selalu di akhir waktu, jelas bangunan benteng kurang kuat.
Jika
benteng sudah kuat, seseorang bisa memperkuatnya lagi. Hal yang dapat dilakukan
untuk memperkuatnya adalah dengan membuat pagar di luar benteng tersebut. Kalau
tembok atau bentengnya adalah ibadah wajib, maka membuat dinding pagar tambahan
di luar benteng adalah melaksanakan perbuatan sunnah. Jika salah satu bagian
bentengnya adalah shalat wajib, maka pagar luarnya adalah shalat rawatib,
shalat tahajud, shalat duha, ahalat istikharah, dan sebagainya.[14]
Fungsi
pagar, disamping menahan serangan musuh, ia akan menjaga benteng itu sendiri.
Sebab, persentasenya kecil orang yang selalu shalat sunnah tapi tidak shalat
lima waktu. Mustahil orang yang selalu bersedekah tetapi ia tidak membayar
zakat.[14]
2.4.3. Nahi Mungkar
a.
Meninggalkan harta
haram
Harta
haram atau kekayaan gelap adalah kekayaan yang diperoleh oleh penguasa,
pengusaha, atau siapapun secara tidak sah, baik kekayaan tersebut didapat dari
negara/perusahaan maupun dari rakyat/pihak lain. Setiap jabatan strategis,
pasti menyimpan potensi penyelewengan. Oleh karena itu, dalam islam memberikan
tugas dan amanah yang menyangkut kepentingan orang banyak dan berhubungan
dengan materi (uang) kepada seseorang, tidak sekedar ijazah, gelar ataupun
kepandaian semata. Disamping aspek kekuatan mental, kekuatan spiritual juga
harus menonjol. Orang tersebut harus mempunyai sesuatu keyakinan bahwa bekerja
adalah untuk beribadah dan mencari ridha Allah.
b.
Marah asalnya api
neraka
Bara
api itu adalah potensi marah dalam diri seseorang. Di zaman yang serba penuh
kompetisi ini, tekanan selalu datang bertubi-tubi. Mulai dari urusan kantor,
keluarga, tetangga atau saudara. Dengan demikian, bara api dalam hati menjadi
gampang terpanggang. Itulah perumpamaan sifat kemarahan pada diri manusia. Pada
hakikatnya, manusia yang normal mempunyai sifat atau rasa marah jika
disinggung. Itu adalah fitrah dan naluri kemanusiaan. Namun, ada banyak jenis
hal, kemarahan sering membuat permasalahan hidup. Marah yang timbul dengan
tidak terkendali akan merusak baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan
sekitar. Boleh jadi marahnya benar dan bukan salahnya, namun selalu saja ada
akibat yang merugikan pihak lain.
Seorang
muslim harus mampu mengendalikan amarah. Jika tidak perlu maka tidak usah
marah. Menahan rasa marah terhadap hal semacam itu mendapat keutamaan dalam
islam. Nabi saw. pernah bersabda, “Barangsiapa
yang menahan kemarahannya, maka Allah akan mwnahan siksa-Nya kepada orang itu.”
Dalam hadis lain dikatakan, “Siapa yang
menahan marah padahal ia kuasa untuk memuaskan amarahnya itu, tetapi tidak ia
puaskan bahkan tetap sabar, maka Allah mengisi hatinya dengan keridhoan di hari
kiamat kelak.”
Namun
untuk menjadi orang yang tidak mudah digoncangkan rasa marah tidaklah mudah,
sebab harus melalui latihan-latihan. Nabi mengatakan, “Bukan orang yang kuat itu adalah orang yang tahan pukulan dalam
bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya
ketika marah.”
Cara
menahan dan mengendalikan marah salah satunya dengan memikirkan kegunaan dan
akibat-akibatnya. Cara lainnya adalah dengan selalu menjaga hubungan dengan
Allah. Mengingat ayat maupun hadis mengenai tercelanya marah dan keutamaan
sabar. Kemarahan seorang muslim adalah kemarahan yang terkendali. Artinya, ia
marah karena Allah juga marah. Allah marah melihat kemaksiatan, ia pun marah
melihatnya. Jadi, alasan kemarahanpun karena Allah bukan marah karena hawa
nafsu.
c.
Iri dengki pangkal
frustasi
Iri
dengki termasuk penyakit hati yang berbahaya. Dengan dengki akan timbul
penyakit lain seperti sombong, takabur, fitnah, pamer, ghibah, dan sebagainya.
Ia timbul karena akibat rasa ketidaksukaan, permusuhan, dendam, kikir, dengki
yang dapt disimpulkan ke dalam tiga hal, yaitu tidak suka terhadap kenilmatan
yang didapat orang lain, berusaha untuk menghilangkan kenikmatan orang lain,
dan ingin memiliki atau berusaha agar kenikmatan itu jatuh kepadanya.[14]
d.
Dunia dalam Harta,
tahta, wanita
Hedonisme.
Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat kelas atas
saat ini. Hedonisme adalah budaya bermegah-megah, mengumpulkan kekayaan yang bersifat
materi, dan hanya mementingkan kesenangan belaka. Ungkapan populernya adalah
harta, tahta, dan wanita. Ketiganya memang selalu didamba-dambakan setiap
manusia. Mengejar semua itu memang tidak haram. Bahkan, dalam penggalan
Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 77 dikatakan, “carilah negeri akhirat, namun jangan lupakan bagian duniawi...”.
Mengejar
dunia amatlah berbahaya. Sebab dari situ akan timbul penyakit-penyakit hati
yang mencelakakan seperti menggerutu, takabur, dengki, pamer, munafik, kikir,
bermegah-megahan senang pujian, dan sebagainya. Maka, dalam islam mencari harta
hanya secukupnya saja yang itupun dipergunakan untuk bekal akhirat.[14]
Cinta
kepada harta, tahta, dan wanita akan membuat manusia takut kepada mati. Bila
keduanya sudah menggerogoti seseorang, ia sudah tidak berguna lagi di mata
Allah. Nuraninya sudah hilang dan keberpihakan terhadap agama Allah sudah tidak
ada. Diajak berjihad takut mati dan takut hartanya habis. Padahal para pejuang
islam zaman dahulu yang menyebabkan islam jaya di mana-mana justru
kebalikannya. Mereka justru mencari mati untuk menjadi syahid. Mereka juga
tidak peduli jika hartanya habis untuk diinfakkan ke jalan Allah.
e.
Sombong awal
kebinasaan
Sombong,
baik yang nyata atau yang samar, sama-sama tidak baik.persaingan yang ketat
dalam dunia bisnis membuat orang makin menjadi-jadi dalam menyombongkan diri.
Baik dalam urusan pribadi maupun perusahaan, sombong sama sekali tidak
dibenarkan. Sebab, kesombongan hanyalah milik Allah.
Dalam
Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya: “dikatakan
kepada mereka, ‘masuklah pintu-pintu neraka Jahannam itu dan kalian kekal di
dalamnya.’ Maka neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat bagi orang yang
menyombongkan diri.” (Az-Zumar:72)
2.4.4.
Sabar Dan Bersyukur
Menemukan orang
yang merasa penuh cobaan dalam hidupnya di dunia bisnis sangatlah mudah.
Apalagi disaat krisis. Setiap hari isinya mengeluh dan mengeluh. Padahal yang
kita alami selama ini adalah sebagian kecil dari cobaan dan ujian. Orang yang
mengaku dirinya muslim tidak dibiarkan begitu saja tanpa ujian. Firman Allah
dalam QS al-Ankabut:2-3 yang artinya: “Apakah
manusia itu mengira diri mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘kami telah
beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. Sesungguhnya kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
Masihkah kita
mengeluh menghadapi peliknya persoalan di zaman sekarang ini jika kita
mengingat sejarah dan gambaran penderitaan dan kesabaran Nabi saw. dan sahabatnya
dalam menyebarkan agama Allah. Penderitaan yang kita alami tentunya tidak ada
apa-apanya dibanding mereka. Bersabar akan mendatangkan kemenangan. Di samping
itu, sabar akan menambah pahala di sisi kita.
Kunci dari kebahagiaan adalah bersyukur. Tentu yang
pertama kita syukuri adalah atas hidup dan kehidupan yang dianugrahkan Allah
kepada kita. Sedikit sekali orang yang bersyukur karena tidak diberi apa-apa.
Hidup ini sendiri sudah merupakan anugrah yang patut kita syukuri. Jika jalan
fikiran manusia seperti menunggu kaya dulu, punya mobil baru, rumah mewah baru
bersyukur, maka tidak akan ada manusia yang mau bersyukur. Manusia secara
kodrati memang tidak pernah merasa puas. Jika diberi segunung emas, maka ia
meminta dua buah gunung.[16]
Secara dalil naqli keharusan bersyukur bertebaran
dimana-mana. Allah berfirman, “Jika
engkau mensyukuri nikmat-Ku maka akan Ku tambah. Jika engkau kufur atas
nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Tasawuf adalah sebuah ajaran untuk membersihkan diri dari sesuatu yang hina
kemudian menggantinya dengan sesuatu yang baik untuk memperoleh kedekatan
dengan Allah SWT. Karena jika seseorang telah dekat dengan Allah SWT dan meraih
cinta-NYA, maka secara otomatis ia pun akan dekat dan dicintai oleh sesama
manusia.
Sufi merupakan aktualisasi dari nilai-nilai
Rabbaniyyah dalam kehidupan. Sufi bukanlah sikap ‘anti dunia’, dalam kehidupan
moderen saat ini, sosok manusia dengan segala kesibukannya di dunia dapat menjadi
seorang ‘Sufi’, seorang karyawan, pebisnis, dapat menjadi ‘sufi’ meski dengan
pakaian moderen seperti jas, kemeja, dan sebagainya.
Terapan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari:
·
Tasawuf Untuk Kecerdasan Spiritual
·
Tasawuf Untuk Kesuksesan Karier
·
Tasawuf Untuk Kehidupan Berkeluarga
·
Tasawuf Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Beberapa hal
yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang sufi berdasi adalah:
1. Meluruskan niat
2. Amar ma’ruf
3. Nahi munkar
4. Bersabar dan bersyukur
DAFTAR PUSTAKA
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran.
Jakarta: Gema Insani.
Rasyid, Hamdan.2009. Sufi
Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.
Djamaluddin, Achmad. 2006. Jalan Menuju Allah. Yogyakarta: Pustaka Al-Muhibbin.
Silla, M. Adlin. 2007. Sufi berdasi : mencapai derajat sufi dalam kehidupan
modern mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.
Handrianto, Budi. 2002.
Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta:
Gema Insani.
Adalah dzikir secara rahasia di dalam hati tanpa diketahui oleh orang lain
Djamaluddin, Achmad. 2006. Jalan Menuju Allah. Yogyakarta: Pustaka
Al-Muhibbin.
Rasyid, Hamdan.2009. Sufi Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.
Rasyid, Hamdan.2009. Sufi Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002.
Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta:
Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran.
Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002.
Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta:
Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002.
Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta:
Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002.
Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta:
Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Silla, M. Adlin. 2007. Sufi berdasi : mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern mencapai
derajat sufi dalam kehidupan modern. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan
Agama.