Jumat, 11 November 2016

TUHAN DALAM GEN KITA

TUHAN DALAM GEN KITA

Mengamati alam sekitar bahkan mengamati diri kita sendiri akan memunculkan beberapa pertanyaan. Siapa yang menciptakan alam dan isinya sedemikian rupa sempurna? Siapa yang menggerakkan dan mengatur serta menjaganya? Yang pasti suatu zat yang otak kita pun tidak dapat menjangkaunya.
Makhluk hidup seperti manusia tersusun atas gen. Pada hakikatnya manusia diberi porsi kemampuan yang sama. Hanya saja ada beberapa factor yang mempengaruhi yaitu gen. Dalam kamus biologi gen diartikan sebagai kromosom yang mengandung pembawa sifat yang diturunkan; sepenggal DNA yang berfungsi mengendalikan sifat; suatu materi yang terdapat dalam kromosom tubuh makhluk hidup yang dapat mengendalikan ciri suatu organisme.
Manusia dan makhluk hidup tersusun atas sel-sel yang jumlahnya begitu banyak. Setiap sel mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Tapi, setelah sel-sel tersebut terkumpul menjadi suatu organ hasilnya akan memiliki penampilan dan fungsi yang berbeda. Disini gen berperan sebagai pengatur atau pengendali fungsi dari setiap sel-sel tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Kazuo Murakami memperkenalkan bahwa dalam gen terdapat tombol nyala/padam. Tombol ini dikenal berfungsi untuk mengaktifkankan atau menonaktifkan gen sesuai dengan prosedurnya. Sehingga suatu sel tidak akan melampaui batas garis ketentuannya dimana suatu sel rambut akan tetap menjadi sel rambut dan sel kuku akan tetap menjadi sel kuku.
Karakteristik gen selama ini dianggap mutlak atau tetap. Padahal sifat yang ada pada diri setiap makhluk tidak hanya pengaruh dari factor gen saja, namun factor lingkungan dan factor fikiran dapat merubah gen yang awalnya dorman menjadi aktif.  Berfikiran positif mampu membuat gen-gen yang sifatnya positif akan menjadi aktif. Sebaliknya berfikir negative juga akan mengaktifkan gen negative. Meskipun sulit bagi kita untuk selalu berfikir positif apalagi menjaga hidup agar selalu bahagia. Oleh karena itu, dokter di Negara Jepang tidak memberitahukan kepada pasiennya apabila mengidap suatu penyakit seperti kanker. Hal ini bertujuan agar si pasien selalu berfikiran positif dan terhindar dari doktrin-doktrin bagi dirinya untuk berfikiran negative.
Seseorang akan berpotensi seperti apa yang ia fikirkan. Sehingga factor fikiran dapat mempengaruhi cara gen bekerja, yang selama ini dikenal dengan istilah sugesti. Sebagai contoh, apabila seorang berasal dari keturunan yang mempunyai riwayat diabetes dan mendoktrin dirinya akan mewarisi penyakit diabetes tersebut, maka gen negative akan aktif yang membuat seseorang akan benar-benar menderita penyakit diabetes.
Di dalam sel terdapat nucleus, dimana nucleus mengandung DNA yang di permukaannya tertulis kode genetic yang sering disingkat dengan A, C, G, dan T. kode kode ini mengandung semua informasi yang diperlukan dalam membentuk kehidupan. Satu sel manusia mengandung tiga miliar dari kode ini. Huruf-huruf ini berpasang-pasangan A(adenine) berpasangan dengan T(timin), C(sitosin) berpasanagan dengan G(guanine). Sel merupakan suatu unit dasar dari seluruh makhluk hidup, dan gen merupakan suatu cetak biru yang memungkinkan diteruskannya kehidupan ke generasi-generasi berikutnya.
Factor-faktor yang terlibat dalam aktivasi gen yaitu gen itu sendiri, lingkungan, dan pola fikir. Seorang genius yang menikah dengan seorang yang berparas tampan tidak dapat dipastikan bahwa keturunannya akan berwajah cantik dan mempunyai otak cerdas. Kebanyakan dari kejadiaan seperti itu menghasilkan anak yang biasa-biasa saja. Mungkin gen manusia tidak hanya mewariskan kemampuan dan memori yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya, namun juga dari proses evolusi yang berlangsung selama bertahun-tahun bahkan jutaan tahun kedepan yang memungkinkan bukan keturunannya langsung yang mewarisi kecantikan dan kecerdasan dari orang tuanya melainkan diwariskan kepada cucu-cucu atau generasi yang jauh dibawahnya.
Sifat unik yang dimiliki gen adalah gen tidak bertambah tua. Seberapapun tuanya usia kita, gen yang kita miliki masih sama dengan gen kita selama masih muda. Jadi, tidak ada anggapan bahwa seseorang yang dilahirkan dari orang tua yang masih muda akan tumbuh lebih hebat dari anak yang dilhirkan dari orang tua yang sudah tua. Karakter seorang anak akan dapat ditempa dari sebelum lahir. Penelitian membuktikan bahwa karakter seorang anak telah terbentuk 25 tahun sebelum dia dilahirkan. Artinya, meskipun seseorang telah tua tidak mesti akan melahirkan seorang anak yang kalah dari anak yang terlahir dari Rahim ibu yang masih muda. Tetapi tidak mengelak dari kemungkinan bahwa factor lingkungan dan pola fikir ikut berperan dalam pengaktifan gen-gen yang dorman.
Disamping lingkungan tempat seseorang dibesarkan, lingkungan baru ikut berperan sebagai dalam pengaktifan gen-gen yang dorman. Seseorang yang pindah ke lingkungan yang baru akan dipaksa untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebagai contoh adalah bakteri E.Coli yang beri makanan berupa laktosa. Gen yang pada awalnya dorman pun dapat dipicu untuk bereaksi dengan lingkungan yang baru.
Perubahan kondisi lingkungan dapat menciptakan aktivasi sel-sel secara sempurna. Seseorang yang kerap melakukan perpindahan akan semakin bertanggung jawab dan tentunya akan mempunyai banyak pengalaman. Mahasiswa di Negara Amerika menyelesaikan study S1 hingga S2 di universitas-universitas yang berbeda. Tentunya hal ini akan banyak mendapatkan keuntungan dan pembelajaran yang berbeda serta menemukan hal-hal baru dan dapat melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika hidup di lingkungan yang baru tentunya akan mendapat banyak informasi-informasi yang baru dan berbeda dari sebelumnya yang dapat merubah hidup seseorang. Informasi sangat penting dalam dunia ilmiah. Mendapat banyak kenalan baru yang membuat saling bertukar fikiran satu sama lain yang kemudian dapat menimbulkan etos kerja sama sehingga tumbuh reaksi memberi dan menerima yakni sebagai dasar dari hubungan antarmanusia. Hal tersebut berhubungan dengan QS An Nisa ayat 1 yang menjelaskan tentang manusia diciptakan dari diri yang satu, kemudian diciptakan daripadanya istri dan daripada keduanya pula Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan perintah untuk saling memberi satu sama lain serta seruan untuk memelihara hubungan silaturahmi.
Saat mempelajari tentang gen dan sel serta bagian-bagian penyusunnya, sering timbul rasa takjub kepada sang pencipta alam semesta berikut siklus-siklus yang mengaturnya. Gen terkandung di dalam nucleus yang ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan kasat mata namun memuat informasi genetic yang begitu besar jumlahnya. Kekuatan yang Maha Agung yang telah menciptakan dan menyusun makhluk hidup  yang tak hanya manusia, tetapi juga melipui mikroorganisme, tumbuhan, hewan, dan manusia yang tersusun dari miliaran gen per organisme serta menciptakannya dengan sifat-sifat yang berbeda.


Murakami, Kazuo.2008. The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita. Bandung: Mizan

Selasa, 08 November 2016

TASAWUF ORANG KANTORAN

TASAWUF ORANG KANTORAN
Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak Tasawuf




  
Disusun Oleh :
Kelompok 13
Ayu Hidayatus Sholikhah       (15630024)
Yoga Saputra                          (15630030)
Titis Ratna Djuwita                 (15630038)


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2015/2016




BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG

Pada esensinya,  agama Islam yang terdiri atas aqidah, syariat dan akhlak, merupakan agama  yang sempurna dan semua ajarannya terintegral dan saling berkaitan. Aqidah menjelaskan  syariat, syariat menjelaskan  aqidah, dan aqidah serta syariat menjelaskan akhlak. Dalam pengejawantahannya kemudian melahirkan praktek-prektek yang  beragam dikalangan ummat Islam. Dan dalam sejarah kemudian kita mengenal adanya praktek-praktek sufi yang dijalani oleh beberapa orang dan kelompok.
Tasawuf adalah sebuah ajaran untuk membersihkan diri dari sesuatu yang hina kemudian menggantinya dengan sesuatu yang baik untuk memperoleh kedekatan dengan Allah SWT. Karena jika seseorang telah dekat dengan Allah SWT dan meraih cinta-NYA, maka secara otomatis ia pun akan dekat dan dicintai oleh sesama manusia.
Wacana tasawuf mengarahkan pikiran kita pada orang-orang saleh, banyak ibadah, menjaga tingkah laku pergaulannya dengan Allah SWT., dengan sesama manusia, dengan mahluk lain dan selalu ingin dekat dengan Allah pencipta semua mahluk. Namun demikian istilah ini merupakan istilah yang disandarkan pada sebuah gerakan batiniah dalam usaha untuk mendekkatkan diri seorang hamba kepada sang Khalik.
Krisis multidimensi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, terutama krisis ekonomi, telah membuat sebagian rakyat lebih mengedepankan materi/uang. Mereka cenderung berlomba-lomba agar dapat survive dari krisis ini. Demikian pula dengan kondisi dunia usaha (bisnis) ikut pula terimbas, tidak terkecuali pula individu-individu kantoran.

1.2         RUMUSAN MASALAH

  1.  Refleksi tasawuf di meja kerja
  2.  Aplikasi tasawuf dalam kehidupan sehari-hari
  3. Hal yang dapat dilakukan untuk menjadi sufi berdasi





BAB II
PEMBAHASAN

3.1         REFLEKSI TASAWUF DI MEJA KERJA

Di saat manusia di zaman modern kebanyakan kerja di dalam kantor. Mungkin sebagian merasa bahwa ibadah mereka berkurang begitu banyak. Kesibukan seorang manager pasti menyita waktunya. Mungkin untuk ibadah wajib seperti shalat lima waktu dan puasa masih bisa dilakukan. Akan tetapi, shalat rawatib dan shalat dhuha sudah dipastikan sulit mencari waktu untuk melakukannya. Apalagi membaca alquran dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Biasanya bagi sebagian orang sulit dan bahkan “tabu” untuk dilakukan di dalam kantor dan meja kerja.[1]
Memang, ibadah jasmani menuntut untuk meluangkan waktu bagi anggota badan untuk mengerjakannya. Shalat, tidak mungkin dikerjakan sambil kerja. Apalagi haji yang menuntut untuk melepas semua kesibukan dan bahkan meninggalkan keluarga. Kalau puasa masih bisa dilakukan oleh siapapun dalam kondisi sambil kerja tentunya.
Sebenarnya yang paling memungkinkan adalah ibadah hati. Ibadah hati, yang sebenarnya adalah dzikir sirri.[2] Dzikir dalam keramaian memungkinkan siapapun untuk melakukannya. Karena dzikir di dalam hati tidak membutuhkan waktu khusus dan tempat khusus dan bahkan tidak membutuhkan suci dari hadast.  Dalam kondisi apapun, seseorang bisa menjalankan dzikir. Dalam setiap kesempatan siapapun bisa melakukan dzikir. Bahkan di dalam WC pun, kita masih bisa dzikir. Bahkan di saat berhubungan suami istripun, dzikir dimungkinkan.

3.1         APLIKASI TASAWUF DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Menerapkan tasawuf dalam kehidupan sehari hari tidak memandang siapapun anda. Bila telah belajar tasawuf, pasti akan mudah menerapkannya di kehidupan sehari hari, tak terkecuali ketika berada di tempat kerja. Menanamkan tasawuf dapat dimulai dari sekarang, yakni mengerjakan segala sesuatu dimulai dengan bacaan basmalah. Dan biasakan melakukan semua aktifitas diiringi dengan dzikir di dalam hati. Biasakan untuk mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT. Sehingga, kita bersyukur ketika menjalankan taat dan mendapatkan nikmat, dan taubat ketika menjalankan maksiat, serta sabar dan ridho atas qadha Allah ketika mendapatkan musibah.
Perlu diingat, jangan segan dan jangan malu untuk menimba ilmu dari para ulama’. Karena mereka adalah pewaris para nabi. Jangan terpesona dengan orang kaya tapi kikir, karena dia adalah penerus Qorun yang terlibas gempa sehingga terhempas di dalam perut bumi. Jangan juga terpikat oleh pemimpin yang semena semana, karena hakikatnya dia adalah Firaun yang mati terpuruk di tengah lautan.
Dalam pepatah jawa “trisno jalaran soko kulino”, maka biasakanlah berdzikir dengan lisan dan hati ketika anda tidak mempunyai kesibukan, sehingga tak terasa, di saat anda sibuk, hati anda akan berdzikir secara terus menerus tanpa perlu dituntun lagi.[3]
Sufi merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Rabbaniyyah dalam kehidupan. Sufi bukanlah sikap ‘anti dunia’, dalam kehidupan moderen saat ini, sosok manusia dengan segala kesibukannya di dunia dapat menjadi seorang ‘Sufi’, seorang karyawan, pebisnis, dapat menjadi ‘sufi’ meski dengan pakaian moderen seperti jas, kemeja, dan sebagainya.
Beberapa penerapan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari:
·        Tasawuf Untuk Kecerdasan Spiritual
Ajaran Tasawuf menjadikan manusia dapat mengetahui dan dapat tegas memisahkan mana amalan kebaikan dan mana amalan keburukan.[4]
·        Tasawuf Untuk Kesuksesan Karier
Ajaran Tassawuf dalam dunia pekerjaan diaktualisasikan dalam bentuk niat karena Allah SWT, totalitas, ikhlas, serta tidak mudah putus asa. Apabila dapat diterapkan, maka kesuksesan dalam ber-karier pada bidang pekerjaan apapun hanya tinggal menunggu waktu saja.4
·        Tasawuf Untuk Kehidupan Berkeluarga
Ajaran Tasawuf dalam kehidupan berkeluarga dapat menghadirkan ketenangan, kedamaian, sikap saling mencintai, teguh dalam menghadapi masalah, yang kesemuanya pada akhirnya dapat membentuk keluarga yang sakinah, Mawaddah, Warrahmah, laksana Baiti Jannati.[5]
·        Tasawuf Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Nilai-nilai Tasawuf dapat menghadirkan kondisi masyarakat yang damai, tenang, saling menghormati, karena masing-masing pribadi/keluarga saling menjaga diri dari melakukan perbuatan-perbuatan tercela.[5]

3.1         HAL YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENJADI SUFI BERDASI

2.4.1.      Meluruskan Niat

a.         Pola tukang jahit
Membuat sebuah pola dalam urusan jahit menjahit sangatlah penting sebelum seseorang memulai untuk membuat suatu pekerjaan menjahit. Demikian pula dalam mengerjakan suatu perbuatan. Mencanangkan niat terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan sama halnya dengan membuat pola. Baik buruknya perbuatan bergantung pada niat dan cara melakukannya. Itulah yang dimaksudkan Rasulullah Saw. dalam hadisnya yang sangat terkenal mengenai niat. Beliau bersabda, “Innamal a’malu binniat”. Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya.[6]
Nabi saw. bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sungguh Allah mencintai hamba-Nya yang berkerja. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia laksana seorang yang bertempur di medan perang membela agama Allah”. Bayangkan, pergi bekerja (ngantor), bertani, berdagang, melaut, dan sebagainyadisejajarkan dengan para mujahidin yang berperang melawan musuh. Syaratnya jelas, semata-mata bekerja dengan niat ibadah dan sudah barang tentu yang dikerjakan adalah halal.
Jadi, niat memegang peranan penting dalam perbuatan. Perbedaan kedua pekerjaan yang sama dengan niat yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda. Tidakkah kita merasa sayang bila diserahi kain untuk dijahit menjadi sebuah baju, lalu tanpa mengukur dan membuat pola langsung gunting sana gunting sini, akhirnya jadinya tidak sesuai pesanan. Tentu sang pemesan tidak mau menerimanya. Bahkan bukan Cuma menolak,tapi akan memarahi sang tukang jahit. Namun, jika ukurannyapas dan enak dipakai, mka tidak hanya ongkos jahit yang diterimanya tapi juga tips dan pujian-pujian. Demikian pula amal perbuatan kita, kalau dipola atau diniatkan sesuai kehendak Allah, ganjarannya (pahala) akan berlipat-lipat.[7]
Cela dalam sebuah baju terjadi karena kecerobohan dalam membuat atau tidak pandai dalam mengerjakannya. Oleh karena itu, sekecil apapun mulailah setiap pekerjaan dengan niat yang baik, niat yang semata-mata untuk mendekatkan diri dan mencari keridhoan-Nya.

b.        Pekerjaan yang terbaik
Banyak orang yang menilai pekerjaan sebagai guru agama, ustadz atau kiai saja yang mengandung berkah. Sementara pekerjaan lain seperti pedagang, kantoran, nelayan, ekonom, politikus, tentara, dan sebagainya adalah masalah-masalah duniawi. Padahal Allah tidak pernah membedakan antara pekerjaan yang lain sepanjang halal cara mendapatkannya.[8]
Fauzi Sanqarth menjelaskan dalam kitabnya at-Taqarub Illallah Thariqut Taufiq bahwa pekerjaan [8]yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas lillahi ta’ala serta sesuai dengan tuntunan hukum islam. Para ulama selalu menyatukan dua hal utama ini dalam setiap aktivitasnya. Dalam surah al Mulk ayat 2 Allah berfirman, “... agar Ia menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya.” Allah menekankan pada pernyataan “amal yang terbaik”, bukan “amal yang terbanyak”.[8]
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, mencari nafkah merupakan suatu kewajiban bagi seorang laki-laki muslim dewasa. Untuk itu, setiap memulai pekerjaan itu harus harus ikhlas. Pekerjaan yang dilakukan juga harus halal sesuai dengan tuntunan Nabi saw.. Bekerja sebagai guru tetapi tidak ikhlas maka pahalanya tidak akan sampai. Menarik apa yang dikatakan Hujjatul Islam Imam Ghazali. Beliau mengatakan, “semua manusia akan hancur, kecuali mereka yang berilmu. Setiap orang yang berilmu akan hancur, kecuali orang yang beramal. Setiap orang yang beramal akan hancur, kecuali orang yang ikhlas. Setiap orang yang ikhlas akan selalu menghadapi godaan setan.”
Keikhlasan dalam bekerja memang menjadi sorotan penting. Ulama terkenal Imam Abi Qasimy al –Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan tujuan taat satu-satunya hanyalah kepada Allah. Bukan untuk yang lain, seperti mengambil hati orang lain, mengharap pujian atau makna lain selain mendekatkan diri pada-Nya.”

c.         Bukan mengharap pujian
Niat yanng ikhlas mendasari setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang muslim. Disadari niat tersebut, setiap pekerjaan akan dilaksanakan dengan amanah, bersih (jujur), transparan, dan profesional (ABTP). Kaum muslim di era kejayaannya dahulu selalu melaksanakan prinsipprinsip tersebut. Keempat faktor inilah yang sekarang sedang dibangun oleh masyarakat bisnis modern kita, menggantikan istilah yang disebut KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).[9]
Bekerja supaya dianggap hebat bukan sifat seorang muslim. Ahli hikmah memberikan uraian yang sangat mengena. Ia berkata, “Contoh seorang yang bekerja dengan riya’ dan sum’ah bagaikan orang yang pergi ke pasar. Ia mengisi kantongnya dengan batu sehingga orang-orang yang melihat kantongnya semua merasa kagum dan berkata, ‘Alangkah penuh kantong orang itu dengan uang’. Namun tentu saja sama sekali tidak berguna baginya apa yang ada dalam kantong itu karena tidak dapat dibelanjakan apa-apa kecuali mengharapkan pujian orang-orang.”
Ali bin Abi Thalib juga memperingatkan setiap orang yang bekerja tidak secara ikhlas. Beliau memberi tanda orang-orang yang tidak ikhlas dengan empat macam: malas jika tidak ada orang, giat jika di muka umum, bertambah amal jika dipuji, dan menguranginya jika dicela.[9]
Banyak diantara kita bekerja karena atasan. Atasan melihat kita giat, atasan cuti kita seenak hati. Padahal akhlak seorang muslim tidak seperti itu. Jika niatnya ikhlas, bekerja dianggap sebagai ibadah maka setiap aktivitas akan melahirkan pahala-pahala yang banyak, meskipun amalannya adalah pekerjaan kantor.[9]
Agar terhindar dari keinginan untuk dipuji dan pamer pekerjaan, Syaqiq bin Ibrahim yang dikutip dalam kitab Tanbihul Ghafilin memberikan saran untuk membentengi perbuatan kita. Ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, merasa bahwa taufik dan hidayah datangnya dari Allah semata. Perasaan ini untuk mematahkan sifat sombong dan takabur. Kedua, pekerjaan itu harus diniatkan hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Ketiga, setiap pekerjaan harus mengharapkan pahala dari Allah. Hal ini dapat menghindarkan dari sifat tamak, rakus, dan riya’. Dalam kehidupan sehari-hari, bukan berarti pujian tidak diperlukan. Kadang pujian dapat memacu kerja dan prestasi kerja. Namun mabuk pujian, bahkan menjadikan pujian sebagai tujuan sangatlah dilarang oleh agama. Nabi sendiri sering memberikan pujian kepada sahabatnya. Salah satunya adalah pujian terhadap Abu Bakar. “Kalau imannya Abu Bakar ditimbang dengan imannya seluruh manusia, niscaya lebih berat kepada Abu Bakar.”[10]

2.4.2.      Amar Makruf

a.         Memanjangkan akar kedermawanan
Agama islam adalah agama yang mengajarkan kedermawanan. Rasulullah saw. adalah contong orang yang sangat dermawan. Bahkan kedermawanannya itu mengundang simpati orang untuk masuk islam. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis bahwa Nabi saw. sama sekali tidak pernah berkata “tidak” jika ada yang minta sesuatu darinya. Pernah ada orang dari kaum yang masih kafir meminta kambing pada Rasulullah. Oleh beliau diberikan sebanyak kambing yang ada di antara dua bukit. Orang tadi demikian girang dan langsung pulang ke kaummnya serta berseru “wahai kaumku, masuklah islam. Karena sesungguhnya Muhammad memberikan harta dengan pemberian seperti orang yang tidak takut miskin.” Maka islamlah satu kaum tersebut dengan sifat pemurahnya Nabi.[11]
Seorang yang bersifat dermawan laksana menancapkan kakinya ke surga lewat akar pohon sedekahnya. Semakin banyak sedekah, semakin panjang akarnya masuk ke surga. Untuk itu, para sahabat beramai-ramai untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Kegemaran bersedekah tidak hanya menjadi monopoli sahabat Nabi saw. yang tergolong kaya. Karena setiap kaum muslim apapun kondisinya ia harus bersifat pemurah. Bahkan, kalau tidak ada sesuatu pun, senyum bisa diberikan. Menurut Nabi, senyum kepada saudaranya adalah sedekah. Bahkan, orang yang gemar akan dilipatgandakan hartanya oleh Allah.  Allah berfirman “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada masing-masing bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha luas karunianya lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:261)

b.        Mendekat sejengkal, kudekati sehasta
Taqarrub kepada Allah tidak terbatas hanya dalam ibadah khusus (ritual) saja. Namun ia mencakup pula seluruh aktivitas yang berhubungan dengan manusia lain, seperti muamalah atau akhlak dan semua aspek kehidupan manusia baik yang bersifat fardhu ‘ain, fardhu kifayah, maupun sunnah.
Kegiatan-kegiatan sunnah juga disukai oleh Allah. Kegiatan-kegiatan sunnah merupakan tambahan dari aktivitas yang wajib seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Dari kecintaan-Nya tersebut Allah akan mengangkat derajat sang hamba. Tentu saja maqam seperti itu harus dicapai dengan latihan sedikit demi sedikit. Percepatan melakukan proses pendekatan dimotivasi Allah dengan firman-Nya yang sering kita dengar dalam hadis qudsi riwayat Imam Bukhari, “Jika seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekati sedepa. Jika ia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari.
Kedekatan seorang hamba kepada sang Khaliq menunjukkan ukuran kecintaan, baik kecintaan Khaliq kepada hamba, maupun hamba kepada Khaliq. Imam al-Ghazali sangat konsen terhadap masalah cinta-mencintai ini. Dalam buku-bukunya banyak dibahas maslah kecintaan kepada Allah. Salah satunya beliau mengatakan, “sesungguhnya kecintaan kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam dan kedudukan yang paling tinggi. Karena setelah diraihnya mahabbah, tidak ada lagi kedudukan yang lain kecuali buah dari kedudukan tersebut seperti maqam syauq, uns, ridha dan lain-lain. Dan tidak ada maqam sebelum mahabbah kecuali pengantar-pengantar pada kecintaan itu seperti tobat, sabar, zuhud, dan lainnya.”[12]

c.         Shalat (tolok ukur orang islam)
Bagi orang kantoran, melaksanakan shalat tidak segampang ibu rumah tangga, guru, mahasiswa, atau kaum santri. Di zaman reformasi seperti ini, dapat dilihat sedikitnya persentase orang yang shalat di lingkungan kantoran, dapat disimpulkan bahwa terdapat kesulitan di situ.
Faktor yang menghalangi shalat memang banyak. Dunia kantor yang cenderung materialis merupakan faktor utama, sehingga seorang karyawan muslim enggan untuk shalat. Alasan lain mudah dicari seperti sibuk, tidak ada tempat, atau tempatnya kurang nyaman. Jadi, shalat adalah barang mahal bagi dunia bisnis yang berada di kantor-kantor.[13]
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kadar keislaman seorang karyawan bisa diukur dari shalatnya. Apakah ia shalat atau tidak. Namun setidaknya indikator atau tolok ukur standar untuk melihat kadar keislaman seseorang.jika seseorang tidak shalat, dapat dipastikan agamanya kacau. Meskipun bisa jadi orang tersebut dianggap baik oleh orang lain. Sedangkan kalau shalatnya baik, memang belum tentu ia baik orangnya. Tapi yang jelas, ia lebih baik dari orang yang tidak shalat tadi.[13]
Padahal, masalah shalat adalah hal yang paling banyak diwanti-wanti Nabi Muhammad saw.. Kewajiban yang merupakan sarana komunikasi hamba dengan Tuhannya ini sangat tegas perintahnya maupun larangan meninggalkannya. Orang yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Khaliq akan berusaha melakukannya. Apalagi ganjarannya sangat tinggi. Firman Allah dalam surah al-Mu’minun 9-11 : “Dan orang-orang yangg senantiasa memelihara shalatnya merekalah yang mewarisi. Yaitu mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” Terhadap orang yang melalaikan shalat Nabi mengancam, “Barangsiapa yang menggampangkan shalatnya, Allah akan menghinakannya.”

d.        Membuat pagar di luar benteng
Benteg pada diri manusia dibuat dengan ketaatan kepada Allah. Semua perintah wajib seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, haji jika yang mampu dan sebagainya harus dilakukan. Dengan mengerjakan yang wajib-wajib saja maka telah terbentuk sebuah benteng yang kuat. Jika shalat seorang hamba masih bolong-bolong atau selalu di akhir waktu, jelas bangunan benteng kurang kuat.[13]
Jika benteng sudah kuat, seseorang bisa memperkuatnya lagi. Hal yang dapat dilakukan untuk memperkuatnya adalah dengan membuat pagar di luar benteng tersebut. Kalau tembok atau bentengnya adalah ibadah wajib, maka membuat dinding pagar tambahan di luar benteng adalah melaksanakan perbuatan sunnah. Jika salah satu bagian bentengnya adalah shalat wajib, maka pagar luarnya adalah shalat rawatib, shalat tahajud, shalat duha, ahalat istikharah, dan sebagainya.[14]
Fungsi pagar, disamping menahan serangan musuh, ia akan menjaga benteng itu sendiri. Sebab, persentasenya kecil orang yang selalu shalat sunnah tapi tidak shalat lima waktu. Mustahil orang yang selalu bersedekah tetapi ia tidak membayar zakat.[14]

2.4.3.      Nahi Mungkar

a.         Meninggalkan harta haram
Harta haram atau kekayaan gelap adalah kekayaan yang diperoleh oleh penguasa, pengusaha, atau siapapun secara tidak sah, baik kekayaan tersebut didapat dari negara/perusahaan maupun dari rakyat/pihak lain. Setiap jabatan strategis, pasti menyimpan potensi penyelewengan. Oleh karena itu, dalam islam memberikan tugas dan amanah yang menyangkut kepentingan orang banyak dan berhubungan dengan materi (uang) kepada seseorang, tidak sekedar ijazah, gelar ataupun kepandaian semata. Disamping aspek kekuatan mental, kekuatan spiritual juga harus menonjol. Orang tersebut harus mempunyai sesuatu keyakinan bahwa bekerja adalah untuk beribadah dan mencari ridha Allah.[14]

b.        Marah asalnya api neraka
Bara api itu adalah potensi marah dalam diri seseorang. Di zaman yang serba penuh kompetisi ini, tekanan selalu datang bertubi-tubi. Mulai dari urusan kantor, keluarga, tetangga atau saudara. Dengan demikian, bara api dalam hati menjadi gampang terpanggang. Itulah perumpamaan sifat kemarahan pada diri manusia. Pada hakikatnya, manusia yang normal mempunyai sifat atau rasa marah jika disinggung. Itu adalah fitrah dan naluri kemanusiaan. Namun, ada banyak jenis hal, kemarahan sering membuat permasalahan hidup. Marah yang timbul dengan tidak terkendali akan merusak baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Boleh jadi marahnya benar dan bukan salahnya, namun selalu saja ada akibat yang merugikan pihak lain.
Seorang muslim harus mampu mengendalikan amarah. Jika tidak perlu maka tidak usah marah. Menahan rasa marah terhadap hal semacam itu mendapat keutamaan dalam islam. Nabi saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang menahan kemarahannya, maka Allah akan mwnahan siksa-Nya kepada orang itu.” Dalam hadis lain dikatakan, “Siapa yang menahan marah padahal ia kuasa untuk memuaskan amarahnya itu, tetapi tidak ia puaskan bahkan tetap sabar, maka Allah mengisi hatinya dengan keridhoan di hari kiamat kelak.”
Namun untuk menjadi orang yang tidak mudah digoncangkan rasa marah tidaklah mudah, sebab harus melalui latihan-latihan. Nabi mengatakan, “Bukan orang yang kuat itu adalah orang yang tahan pukulan dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.”
Cara menahan dan mengendalikan marah salah satunya dengan memikirkan kegunaan dan akibat-akibatnya. Cara lainnya adalah dengan selalu menjaga hubungan dengan Allah. Mengingat ayat maupun hadis mengenai tercelanya marah dan keutamaan sabar. Kemarahan seorang muslim adalah kemarahan yang terkendali. Artinya, ia marah karena Allah juga marah. Allah marah melihat kemaksiatan, ia pun marah melihatnya. Jadi, alasan kemarahanpun karena Allah bukan marah karena hawa nafsu.[15]

c.         Iri dengki pangkal frustasi
Iri dengki termasuk penyakit hati yang berbahaya. Dengan dengki akan timbul penyakit lain seperti sombong, takabur, fitnah, pamer, ghibah, dan sebagainya. Ia timbul karena akibat rasa ketidaksukaan, permusuhan, dendam, kikir, dengki yang dapt disimpulkan ke dalam tiga hal, yaitu tidak suka terhadap kenilmatan yang didapat orang lain, berusaha untuk menghilangkan kenikmatan orang lain, dan ingin memiliki atau berusaha agar kenikmatan itu jatuh kepadanya.[14]

d.        Dunia dalam Harta, tahta, wanita
Hedonisme. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat kelas atas saat ini. Hedonisme adalah budaya bermegah-megah, mengumpulkan kekayaan yang bersifat materi, dan hanya mementingkan kesenangan belaka. Ungkapan populernya adalah harta, tahta, dan wanita. Ketiganya memang selalu didamba-dambakan setiap manusia. Mengejar semua itu memang tidak haram. Bahkan, dalam penggalan Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 77 dikatakan, “carilah negeri akhirat, namun jangan lupakan bagian duniawi...”.
Mengejar dunia amatlah berbahaya. Sebab dari situ akan timbul penyakit-penyakit hati yang mencelakakan seperti menggerutu, takabur, dengki, pamer, munafik, kikir, bermegah-megahan senang pujian, dan sebagainya. Maka, dalam islam mencari harta hanya secukupnya saja yang itupun dipergunakan untuk bekal akhirat.[14]
Cinta kepada harta, tahta, dan wanita akan membuat manusia takut kepada mati. Bila keduanya sudah menggerogoti seseorang, ia sudah tidak berguna lagi di mata Allah. Nuraninya sudah hilang dan keberpihakan terhadap agama Allah sudah tidak ada. Diajak berjihad takut mati dan takut hartanya habis. Padahal para pejuang islam zaman dahulu yang menyebabkan islam jaya di mana-mana justru kebalikannya. Mereka justru mencari mati untuk menjadi syahid. Mereka juga tidak peduli jika hartanya habis untuk diinfakkan ke jalan Allah.[16]

e.         Sombong awal kebinasaan
Sombong, baik yang nyata atau yang samar, sama-sama tidak baik.persaingan yang ketat dalam dunia bisnis membuat orang makin menjadi-jadi dalam menyombongkan diri. Baik dalam urusan pribadi maupun perusahaan, sombong sama sekali tidak dibenarkan. Sebab, kesombongan hanyalah milik Allah.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya: “dikatakan kepada mereka, ‘masuklah pintu-pintu neraka Jahannam itu dan kalian kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat bagi orang yang menyombongkan diri.” (Az-Zumar:72)

2.4.4.      Sabar Dan Bersyukur

Menemukan orang yang merasa penuh cobaan dalam hidupnya di dunia bisnis sangatlah mudah. Apalagi disaat krisis. Setiap hari isinya mengeluh dan mengeluh. Padahal yang kita alami selama ini adalah sebagian kecil dari cobaan dan ujian. Orang yang mengaku dirinya muslim tidak dibiarkan begitu saja tanpa ujian. Firman Allah dalam QS al-Ankabut:2-3 yang artinya: “Apakah manusia itu mengira diri mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
Masihkah kita mengeluh menghadapi peliknya persoalan di zaman sekarang ini jika kita mengingat sejarah dan gambaran penderitaan dan kesabaran Nabi saw. dan sahabatnya dalam menyebarkan agama Allah. Penderitaan yang kita alami tentunya tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Bersabar akan mendatangkan kemenangan. Di samping itu, sabar akan menambah pahala di sisi kita.[17]
Kunci dari kebahagiaan adalah bersyukur. Tentu yang pertama kita syukuri adalah atas hidup dan kehidupan yang dianugrahkan Allah kepada kita. Sedikit sekali orang yang bersyukur karena tidak diberi apa-apa. Hidup ini sendiri sudah merupakan anugrah yang patut kita syukuri. Jika jalan fikiran manusia seperti menunggu kaya dulu, punya mobil baru, rumah mewah baru bersyukur, maka tidak akan ada manusia yang mau bersyukur. Manusia secara kodrati memang tidak pernah merasa puas. Jika diberi segunung emas, maka ia meminta dua buah gunung.[16]
Secara dalil naqli keharusan bersyukur bertebaran dimana-mana. Allah berfirman, “Jika engkau mensyukuri nikmat-Ku maka akan Ku tambah. Jika engkau kufur atas nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)






BAB III
PENUTUP
3.1         KESIMPULAN

Tasawuf adalah sebuah ajaran untuk membersihkan diri dari sesuatu yang hina kemudian menggantinya dengan sesuatu yang baik untuk memperoleh kedekatan dengan Allah SWT. Karena jika seseorang telah dekat dengan Allah SWT dan meraih cinta-NYA, maka secara otomatis ia pun akan dekat dan dicintai oleh sesama manusia.
Sufi merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Rabbaniyyah dalam kehidupan. Sufi bukanlah sikap ‘anti dunia’, dalam kehidupan moderen saat ini, sosok manusia dengan segala kesibukannya di dunia dapat menjadi seorang ‘Sufi’, seorang karyawan, pebisnis, dapat menjadi ‘sufi’ meski dengan pakaian moderen seperti jas, kemeja, dan sebagainya.
Terapan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari:
·        Tasawuf Untuk Kecerdasan Spiritual
·        Tasawuf Untuk Kesuksesan Karier
·        Tasawuf Untuk Kehidupan Berkeluarga
·        Tasawuf Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang sufi berdasi adalah:
1.     Meluruskan niat
2.     Amar ma’ruf
3.     Nahi munkar
4.     Bersabar dan bersyukur





DAFTAR PUSTAKA
Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
Rasyid, Hamdan.2009. Sufi Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.
Djamaluddin, Achmad. 2006. Jalan Menuju Allah. Yogyakarta: Pustaka Al-Muhibbin.
Silla, M. Adlin. 2007. Sufi berdasi : mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.






[1] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[2]Adalah dzikir secara rahasia di dalam hati tanpa diketahui oleh orang lain
[3] Djamaluddin, Achmad. 2006. Jalan Menuju Allah. Yogyakarta: Pustaka Al-Muhibbin.
[4] Rasyid, Hamdan.2009. Sufi Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.

[5] Rasyid, Hamdan.2009. Sufi Berdasi. Jakarta: Al-Mawardi.
[6] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.

[7] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.

[8] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[9] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[10] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[11] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[12] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[13] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[14] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[15] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[16] Handrianto, Budi. 2002. Kebeningan Hati dan Pikiran Refleksi Tasawuf Kehidupan Orang Kantoran. Jakarta: Gema Insani.
[17] Silla, M. Adlin. 2007. Sufi berdasi : mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern mencapai derajat sufi dalam kehidupan modern. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.